IKLAN

Adab sebelum Ilmu

Di era disrupsi, saat teknologi melaju cepat dan informasi begitu mudah diakses, menuntut ilmu tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan ini tersembunyi tantangan besar, lunturnya adab dan akhlaq dalam proses mencari ilmu.banyak yang mengira bahwa cukup dengan membuka video, membaca ringkasan, atau mengikuti kelas daring, seseorang sudah menjadi “alim” atau layak bicara tentang agama dan ilmu. Padahal dalam Islam, ilmu bukan sekedar hafalan atau data, ia adalah cahaya yang bersih dan tunduk.

Banyak alasan syar’i yang menunjukkan bahwa berhias dengan adab yang baik, akhlaq yang mulia, dan sifat yang baik itu merupakan karakteristik seorang muslim. Juga bahwa ilmu yang merupakan mutiara paling berharga dalam mahkota syari’at yang suci tidak akan diperoleh kecuali oleh orang yang berhias dengan adab-adab menutut ilmu dan terbebas dari penyakit-penyakitnya.

Para ulama terdahulu menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Imam Malik, guru Imam Syafi’i, bahkan menunda mengajar murid-muridnya belajar adab terlebih dahulu. Dalam tradisi para salaf, duduk dimajlis ilmu tidak hanya menyimak isi pelajaran, tapi juga belajar berbicara, bersikap, dan menghormati guru serta sesama penuntut ilmu. Di era sekarang, kita sering melihat komentar kasar di media sosial ditujukan kepada para ilmu, tanpa rasa hormat dan tanpa ilmu yang cukup. Ini adalah bentuk disrupsi moral yang lebih berbahaya daripada disrupsi teknologi.

Kata mutiara dalam kitab Hilyah Thalibil Ilmi adalah:

1.      Karena ilmu apabila tidak didasari dengan keikhlasan maka akan berubah dari keta’atan yang utama menuju menjadi kemaksiatan yang paling buruk, dan tidak ada sesuatupun yang sangat mampu merusak ilmu semisal riyaa.

2.      Maka hendaklah anda selalu konsisten untuk memurnikan niat dari segala sesuatu yang dapat merusak tujuan anda dalam menuntut ilmu seperti : senang popularitas, merasa lebih unggul dari teman sejawat, atau menjadikan ilmu sebagai alat untuk menggapai kedudukan dunia atau kehormatan atau harta atau popularitas dan mengharapkan pujian dari manusia dan kekaguman mereka. Karena apa yang disebut tadi telah merusak dan mengotori niat sehingga hilanglah keberkahan ilmu. Oleh karena itu wajib atas dirimu untuk menjaga kebersihan niat dari segala tujuan selain Allah.

3.      Hiasilah dirimu dengan keindahan ilmu berupa budi pekerti yang luhur, akhlaq yang baik, sikap tenang, berwibawa khusyu, tawadhu dan senantiasa bersikap istiqamah lahir dan bathin, dan berusaha untuk meninggalkan segala hal yang bisa merusaknya.

4.      Bersikaplah lemah lembut dalam setiap tutur kata, jauhilah ungkapan yang kasar, karena ucapan yang lemah lembut akan mampu menjinakkan jiwa yang sedang berontak.

5.      Hiasilah dirimu dengan senantiasa berpikir, karena orang yang berpikir bisa mengetahui. Sehingga ada ungkapan : “Berpikirlah, niscaya engkau akan tahu.”

Maka, penting bagi setiap penuntut ilmu hari ini untuk kembali menanamkan adab dan akhlaq dalam proses belajarnya. Karena tanpa adab, illmu bisa menjadi fitnah. Namun, dengan adab, ilmu akan membawa keberkahan dan membimbing hati menuju ridha Allah.

Sinopsis           : Shodiqotul Khodijah Al-Jabbaar, S.Pd

Buku                : Hilyatul Thalibil Ilmi

Penulis             : Asy-Syaikh Bakr Bin Abdullan Abu Zaid

Penerbit          : Akbar Media, 2013

Tebal               : 355 hal.

Ukuran            : 20,8 cm

 

#Sekolah
SHARE :
IKLAN
LINK TERKAIT