IKLAN

Mengalah Bukan Kalah

Oleh: Diyan Nisanatul Anis, S.Pd (Wali Kelas 4C)

Laporan dari muridku pagi ini, berhasil menggagalkan sarapan pagi yang hendak kusantap. Bergegas menemui mereka yang bertengkar, dan “ baju “ sebagai hakim dadakan segera kukenakan. Setelah tabayyun dengan keduanya, ternyata Joko menuduh Cecep menyembunyikan tumbler minum miliknya di tas Cecep. Ketika Joko dengan paksa membuka dan menggeledah tas milik Cecep, ternyata tumbler yang dimaksud tidak ketemu. Emosi Joko tambah meledak karena tumbler yang ia maksud tidak ia temukan, sehingga luapan emosi itu meledak dan melukai Cecep.

Segera saja aku menegur Joko karena perbuatan tercela yang ia lakukan, menuduh orang lain tanpa bukti terlebih sampai melukai Cecep. Ku nasehati ia agar meminta maaf kepada Cecep, sayang gayung tak bersambut. Joko tetap bersikeras bahwa Ceceplah yang bersalah karena hilangnya tumbler itu. Dengan dewasa dan ksatrianya Cecep mengahampiri Joko dan meminta maaf atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Aku tercengang kenapa anak sekecil ini, bisa lebih dewasa dari pada usianya. Dia tidak salah, kenapa ia yang meminta maaf. Dari mulut mungilnya, Cecep berkata “ndak papa, biar aku yang minta maaf Bu,aku kasihan sama dia. Agar Joko tenang dan tidak nangis lagi, Joko saudara kita kan Bu? . . .  cukup Allah yang tau, kalau Cecep ngga mencuri tumblernya ? Bukankah kebenaran akan selalu menemukan jalannya ?”

Meminta maaf terlebih dulu saat terjadi perselisihan adalah sesuatu yang terkadang kita enggan lakukan, mengapa? Karena kadang lupa cara membijakkan hati mencari kebaikan dari Allah. Padahal, meminta maaf bukan berarti kamu salah dan dia benar, tapi semata karena hatimu harusnya lebih tinggi dari pada egomu. Sebab, bila egomu yang terus menerus kau liarkan, maka tentu sampai kapanpun kau takkan pernah tahu bahwa bersabar itu mengagumkan.

Tidak ada salahnya bila kau bertindak rendah hati meminta maaf duluan ketika terjadi perselisihan, karena meminta maaf bukan berarti kau telah kalah. Tapi tindkaan yang demikian adalah bukti bahwa hatimu memang lebih bijak dari hatinya.

Mengalahlah bila hal itu bisa mendatang kebaikan yang luar biasa, sebab bagaimanapun posisimu saat itu, bagaimana hancurnya hatimu saat merendah, dan bagaimana malunya kau menunduk dihadapannya telah Allah perhatikan secara seksama. Dan percayalah pengorbanan yang kau lakukan akan Allah ganti dengan kebaikan-kebaikannya.

Bersabarlah meski kamu merasa saat mengalah kamu seakan-akan tak punya harga diri dan terasa begitu menyakitkan hatimu. Karena mengharap kebaikan Allah memang butuh yang namanya perjuangan dan kesabaran. Mendahului meminta maaf saat bersilisih bukan tindakan yang murahan, tapi hal itu merupakan tindakan mulia yang tak semua orang bisa. Dan hanya orang-orang hebatlah yang mampu meredam egonya untuk sekedar membuktikan bahwa hatinya lebih tinggi dari egonya.

Oleh karena itu sering-seringlah kau rendahkan hatimu, dan sering-seringlah pula kau redamkan egomu, agar kamu tahu bahwa makna mengalah itu sungguh adalah sesuatu yang mengagumkan. Sebab kebaikan Allah pasti akan selalu menyanding, sehingga damaipun akan selalu dirasanya.Maafkan diriku

#Sekolah
SHARE :
IKLAN
LINK TERKAIT