IKLAN

Senin Pagi yang Penuh Dar Der Dor

Oleh: Fatimah Nur Hasanah

Bu Ima adalah seorang guru kelas 5 SD sekaligus ibu dari seorang anak balita. Pagi itu adalah hari Senin, hari yang selalu super sibuk. Bu Ima sudah berencana untuk datang lebih pagi ke sekolah karena ia harus menyiapkan media pembelajaran konkret untuk materi matematika pecahan menggunakan kue bolu.

Anaknya mendadak terbangun sambil menangis karena tidak mau mandi dan tidak mau berangkat sekolah (PAUD), membuat Bu Ima harus merayu agar anaknya segera mandi dan memakai seragam. Ketika beralih ke dapur, gas elpiji di rumahnya habis, sehingga ia gagal memasak sarapan pagi untu anak dan suaminya. Saat hendak berangkat, gerimis mulai turun, dan ia terpaksa berkendara dengan sangat pelan sambil membawa kotak berisi kue bolu di motor.

Di sepanjang jalan, pikiran Bu Ima berkecamuk penuh kepanikan:

"Ya Allah, pasti saya telat sampai sekolah. Anak-anak kelas 5 kalau jam pertama hari Senin ditinggal sebentar saja pasti kelas sudah seperti kapal pecah. Belum lagi belum sempat masak buat orang rumah... Kendalanya kok borongan begini," batinnya pasrah.

Sambil memarkir motornya di sekolah dengan napas terengah-engah, Bu Ima menarik napas dalam-dalam. Ia berbisik, “Ya Allah, hamba sudah berusaha secepat mungkin. Sekarang hamba pasrahkan kelas dan rumah hamba pada kendali-Mu.”

Bu Ima berjalan menaiki tangga dengan terengah engah menuju kelas 5 sambil membawa kotak kue bolu. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB—artinya ia sudah terlambat dari bel masuk. Ia sudah membayangkan suasana riuh dan kegaduhan anak-anak di dalam kelas.

Namun, begitu membuka pintu kelas 5, Bu Ima tertegun.

Suasana kelas justru tampak tenang. Anak-anak kelas 5 tidak ada yang berlarian. Mereka semua duduk rapi di bangku masing-masing sambil mendengarkan cerita dari Guru lain yang kebetulan sedang melakukan tidak ada jam dan melihat dikelas belm ada Bu Ima.

"Ah, Bu Ima sudah datang, silakan masuk bu.. " sapa Guru lain dengan senyum ramah. "Tadi saya lewat dan melihat Bu Ima belum datang, jadi saya masuk duluan untuk memberikan motivasi pagi dan sedikit cerita tentang kedisiplinan kepada anak-anak. Kebetulan hari ini upacara ditiadakan karena lapangan masih basah akibat hujan semalam."

Bu Ima mengembuskan napas lega yang luar biasa. Allah tidak hanya menjaga anak-anak didiknya tetap tertib, tetapi juga menggerakkan hati guru lain untuk mengisi jeda waktunya tanpa ada rasa amarah sedikit pun. Pembelajaran matematika pecahan dengan kue bolu hari itu pun berjalan sangat seru, interaktif, dan menyenangkan.

Ketenangan dari kendali Allah berlanjut hingga sore hari saat Bu Ima melangkah pulang ke rumah. Sepanjang jalan, ia sempat merasa bersalah karena memikirkan urusan domestik rumahnya yang berantakan sejak subuh: dapur yang dingin tanpa masakan, dan tabung gas yang kosong.

Begitu membuka pintu rumah, Bu Ima mendapati pemandangan yang membuat hatinya langsung hangat.

Suaminya sedang duduk di ruang tengah sambil menyuapi anak balita mereka dengan bubur instan sehat. Di atas meja makan, sudah ada satu kantong plastik berisi nasi lauk ayam goreng kremes  favoritnya.

"Eh, sudah pulang, Bu?" sapa suaminya sambil tersenyum. "Tadi pagi pas mau berangkat kerja, aku lihat tabung gas kosong. Jadi pas pulang kerja tadi, aku sekalian beli gas baru lewat tetangga depan rumah, terus pulangnya sekalian beliin makan malam buat kita biar kamu gak usah repot masak lagi setelah seharian mengajar."

Bu Ima tersenyum lebar, rasa lelahnya menguap seketika. Ia menyadari betapa hebatnya cara Allah mengatur harinya.

Sebagai seorang guru dan ibu, kita sering kali merasa memikul beban seluruh dunia di pundak sendiri—berusaha mengatur murid di kelas sekaligus mengatur segala hal di dalam rumah tanpa celah. Padahal, kapasitas kita sebagai manusia sangatlah terbatas.

Kendala-kendala kecil yang dihadapi Bu Ima sejak subuh sebenarnya adalah cara Allah untuk mengingatkannya agar mau berbagi peran dan menurunkan ego. Saat kita berserah dan melepaskan kekhawatiran, di situlah kendali Allah bekerja secara sempurna: menggerakkan kepala sekolah untuk menjaga muridnya, dan menggerakkan hati suaminya untuk menyelesaikan urusan dapurnya. Kita punya kendala, tapi Allah selalu punya kendali yang terindah.

#Sekolah
SHARE :
LINK TERKAIT