Ketika Sekolah Kecil Berani Bermimpi Menjadi Juara

Gambar adalah ilustrasi AI dan Dokumentasi Sekolah

Oleh: Kamal Maruapey

Tahun 2013 menjadi salah satu tahun yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu saya duduk di bangku kelas IX SMP Negeri 3 Tehoru Satu Atap. Sebuah sekolah yang masih tergolong muda dan memiliki fasilitas yang sangat sederhana. Bahkan, angkatan kami merupakan angkatan kedua sejak sekolah tersebut berdiri.

Namun, justru dari sekolah sederhana itulah sebuah cerita tentang perjuangan, persahabatan, keberanian, dan keyakinan dimulai.

Pada tahun itu, SMP Negeri 3 Tehoru Satu Atap untuk pertama kalinya mendapatkan undangan untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat tingkat Kecamatan Tehoru. Mendengar kabar tersebut, tentu menjadi sesuatu yang membanggakan bagi kami. Kepala sekolah kemudian menunjuk beberapa siswa dari masing-masing kelas untuk bergabung dalam tim lomba.

Alhamdulillah, saya termasuk salah satu siswa yang terpilih.

Kami berenam adalah Ratna Lanuru, Hamid Asatri, Hasmuna, Wa tantri, Amir Ahmad, dan saya sendiri, Kamal Maruapey. Enam orang siswa dengan latar belakang dan karakter yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: membawa nama baik sekolah.

Kami kemudian dikumpulkan di ruang kepala sekolah untuk mendapatkan arahan mengenai lomba yang akan kami ikuti. Tema lomba saat itu adalah UUD 1945 Amandemen dan 45 Butir Pancasila.

Bapak Rusdi Ulayo, yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah, memberikan pembagian materi kepada kami. Beliau menginstruksikan agar masing-masing anggota mempelajari dan menghafalkan pasal-pasal dalam UUD 1945 serta butir-butir Pancasila.

Saya mendapatkan bagian untuk menghafalkan Pasal 29 sampai Pasal 37 UUD 1945, ditambah 11 butir Pancasila sila kelima.

Waktu persiapan kami hanya sekitar tiga minggu.

Awalnya, dalam hati saya muncul keraguan.

“Apakah mungkin kami bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain?”

Apalagi sekolah kami masih sangat muda. Fasilitas yang kami miliki juga jauh dari kata memadai jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang sudah lebih dulu berdiri. Bahkan, sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa semua ini mungkin akan sia-sia.

Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi semangat.

Selama tiga minggu, kami benar-benar berjuang. Kami tidak hanya berlatih di sekolah. Setelah pulang, kami sering membuat janji untuk berkumpul di rumah salah satu dari kami. Di sana kami menghafal, saling bertanya, mengoreksi jawaban, dan berlatih seolah-olah sedang berada di arena perlombaan yang sebenarnya.

Tiga minggu itu kami jalani dengan satu keyakinan:

Kami harus juara.

Kami juga mendapat pendampingan langsung dari kepala sekolah. Beliau tidak hanya memberikan materi, tetapi juga terus memberikan motivasi dan meyakinkan kami bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah sebelum bertanding.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba.

Kami berangkat menuju tempat perlombaan di Kecamatan Tehoru, yang berjarak kurang lebih 24 kilometer dari sekolah kami. Perasaan kami campur aduk. Ada rasa gugup, takut, sekaligus bangga. Di pundak kami bukan hanya membawa nama masing-masing, tetapi juga membawa harapan guru-guru, keluarga, teman-teman, dan tentu saja nama sekolah kami.

Kami masuk sebagai salah satu tim pada babak penyisihan dan harus bersaing dengan empat tim lainnya.

Alhamdulillah, dengan segala kemampuan yang telah kami persiapkan selama tiga minggu, kami berhasil melewati babak penyisihan dan lolos ke babak final.

Di babak final, kami harus berhadapan dengan sekolah-sekolah yang saat itu dikenal sebagai sekolah unggulan di Kecamatan Tehoru. Ada SMP Negeri 1 Tehoru, SMP Negeri Suplesi, dan kami, SMP Negeri 3 Tehoru Satu Atap.

Jujur, saat itu rasa gugup kembali muncul.

Namun, sebelum pertandingan dimulai, ketua regu kami, Hasmuna, memberikan sebuah kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.

Dengan bahasa Ambon, dia berkata:

“Samua yang dong pung punya, katong jua punya. Jadi seng usah taku. Inga katong pung perjuangan sebelum katong datang ka sini. Apa samua itu akang sia-sia saja?”

Kurang lebih artinya:

“Semua yang mereka punya, kita juga punya. Jadi jangan takut. Ingat perjuangan kita sebelum datang ke sini. Apakah semua itu akan menjadi sia-sia?”

Kalimat sederhana itu seperti menyulut api di dalam diri kami.

Kami kembali percaya diri.

Babak final pun dimulai.

Satu per satu pertanyaan diberikan. Mulai dari soal wajib hingga soal lemparan. Alhamdulillah, kami mampu menjawabnya dengan baik. Hafalan yang selama tiga minggu kami perjuangkan akhirnya mulai menunjukkan hasil.

Kemudian tibalah pada sesi yang paling menegangkan: soal rebutan.

Puluhan pertanyaan diberikan. Suasana semakin tegang. Setiap detik terasa begitu berharga. Kami harus berpikir cepat, berkonsentrasi, dan berani menekan tombol untuk merebut kesempatan menjawab.

Kurang lebih 30 soal rebutan kami hadapi.

Dan Alhamdulillah, kami mampu menjawabnya dengan baik.

Setelah seluruh rangkaian perlombaan selesai, tibalah saat yang paling kami tunggu-tunggu: pengumuman hasil perlombaan.

Jantung kami berdebar.

Kami hanya bisa menunggu dengan harapan dan doa.

Hingga akhirnya nama SMP Negeri 3 Tehoru Satu Atap disebut sebagai...

JUARA 1!

Kami berhasil memperoleh nilai 1.800.

Sementara itu, SMP Negeri Supelesi meraih juara kedua dengan nilai 1.600, dan SMP Negeri 1 Tehoru berada di posisi ketiga dengan nilai 1.500.

Rasanya sulit menggambarkan perasaan kami saat itu.

Kami berenam saling memandang, tersenyum, dan tentu saja merasa sangat bahagia. Semua rasa lelah selama tiga minggu, semua hafalan yang kami perjuangkan, semua keraguan yang sempat muncul, semuanya seolah terbayar lunas pada hari itu.

Sekolah kami yang masih sangat muda, dengan fasilitas yang jauh dari kata layak, ternyata mampu berdiri sejajar dengan sekolah-sekolah yang lebih dahulu maju.

Bagi saya pribadi, kemenangan itu bukan sekadar tentang mendapatkan juara pertama.

Lebih dari itu, pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Kami mungkin tidak memiliki fasilitas yang lengkap. Kami mungkin bukan berasal dari sekolah yang dianggap unggulan. Bahkan, pada awalnya kami sendiri sempat merasa tidak akan mampu bersaing.

Tetapi kami memiliki sesuatu yang tidak kalah penting:

kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, kerja sama, dukungan dari guru, dan keyakinan untuk tidak menyerah.

Tiga minggu latihan mengajarkan kami tentang disiplin. Persahabatan mengajarkan kami tentang kekuatan sebuah tim. Kepala sekolah mengajarkan kami tentang keberanian untuk percaya kepada kemampuan siswa. Dan perlombaan itu sendiri mengajarkan saya bahwa terkadang kemenangan bukan ditentukan oleh seberapa lengkap fasilitas yang kita miliki, tetapi oleh seberapa besar usaha yang kita berikan untuk mencapai tujuan.

Kini, bertahun-tahun telah berlalu.

Namun, setiap kali mengingat kembali peristiwa itu, saya masih bisa merasakan suasana ruang perlombaan, ketegangan ketika menjawab soal rebutan, semangat teman-teman, serta suara pengumuman ketika nama sekolah kami disebut sebagai juara pertama.

Itulah salah satu kenangan terbaik dalam perjalanan hidup saya.

Dari sekolah kecil, lahir mimpi yang besar.

Dan dari enam siswa sederhana, lahirlah sebuah kisah yang sampai hari ini tetap saya banggakan.

Kami datang bukan sebagai sekolah unggulan.

Kami datang dengan keterbatasan.

Tetapi kami pulang membawa kemenangan.

Alhamdulillah, sebuah perjuangan yang awalnya kami kira akan sia-sia, justru berubah menjadi salah satu pengalaman paling berharga yang pernah kami miliki.


SHARE :
LINK TERKAIT