
Gambar ilustrasi AI
Oleh: Anis Tri Anggrahini, S.P.d.I. (Guru Ismuba)
Pagi itu, langit belum sepenuhnya terang ketika Husna murid kelas 5 SD sudah berdiri di depan cermin. Kostum untuk perlombaan tergantung rapi di samping tempat tidurnya. Sepasang sepatu yang telah berkali-kali dipakai berlatih terletak di bawah meja. Tidak baru, bahkan beberapa bagiannya mulai tampak usang. Namun bagi Husna, sepatu itu menyimpan begitu banyak cerita.
Tentang pagi-pagi yang dingin...tentang langkah-langkah yang nyaris membuatnya menyerah...tentang keringat yang jatuh tanpa pernah menghitung berapa kali...dan tentang sebuah harapan yang selalu ia titipkan kepada langit.
Hari ini adalah hari yang berbeda. Dimana Husna akan mengikuti perlombaan bergengsi. Perlombaan yang sejak dulu hanya berani ia bayangkan. Pesertanya datang dari berbagai sekolah terbaik. Sebagian membawa piala dari berbagai kompetisi. Sebagian lainnya sudah dikenal sebagai juara. Sementara Husna? Ia hanyalah seorang anak yang datang dari sekolah sederhana dengan satu modal terbesar: kemauan untuk berusaha. “Kamu harus yakin naak,” kata ibunya suatu malam ketika Husna terus menghafal teks naskah lomba. Husna dengan jelas menjawab. “Ibu doakan saja yang terbaik.” Ibunya tersenyum, betapa bijak gadis kecil itu menjawabnya. “Kalau begitu, jadilah hebat dengan caramu sendiri.” Kalimat itu terus terngiang di kepala Husna. Sejak hari itu, ia berlatih lebih keras, di sela membagi waktu antara belajar, bermain , TPA, dan latihan pencak silat.
Ketika sebagian orang masih terlelap, Husna sudah membuka naskah dan mengulang membacanya sesekali berbicara sendiri di depan cermin. Ketika tubuhnya terasa lelah, ia beristirahat sebentar, lalu kembali mencoba. Di sekolah ia berlatih bersama gurunya, sesampainya d rumah setiap ba'da isya selalu mendatangi rumah kakeknya untuk belajar bahasa Jawa sesuai pakemnya. Dimana sekarang bahasa Jawa seringkali harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Tidak semua latihan berjalan sempurna. Banyaknya kegiatan membuatnya harus memprioritaskan mana kegiatan yang didahulukan.
“Aku tidak bisa!”
Ayahnya yang sejak tadi memperhatikan hanya diam.
“Bukan tidak bisa,” katanya pelan. “Kamu hanya belum berhasil.”
Husna menatap ayahnya.
“Bukankah dua kalimat itu sama?”
“Tidak,” jawab ayahnya. “Orang yang mengatakan ‘aku tidak bisa’ akan berhenti. Tetapi orang yang mengatakan ‘aku belum berhasil’ akan mencoba lagi.”
Sejak saat itu, Husna mengubah satu kalimat dalam pikirannya. Bukan lagi aku tidak bisa melainkan: aku belum berhasil. Hari demi hari berlalu, latihan demi latihan dilewati, sedikit demi sedikit, kemampuan menghafal naskah Husna berkembang baik. Ia mulai memahami kesalahannya. Ia belajar mengendalikan rasa gugup. Ia belajar bahwa kemenangan bukan sekadar tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang mampu bertahan ketika keadaan terasa paling sulit. Hingga akhirnya, tibalah hari perlombaan.
Gedung tempat kompetisi berlangsung begitu megah. Ratusan peserta memenuhi ruangan. Spanduk besar bertuliskan nama perlombaan terbentang di atas panggung.
Jantung Husna berdegup lebih cepat. Tangannya dingin. Untuk sesaat, ia merasa kecil di tengah begitu banyak anak hebat. Namun kemudian ia teringat ibunya. Jadilah hebat dengan caramu sendiri.
Ia menarik napas panjang.
“Bismillah.”
Perlombaan dimulai pikirannya mulai lelah.
Tetapi setiap kali rasa takut datang, ia mengingat semua pagi yang telah ia lewati. Ia mengingat semua yang dipelajarinya. Ia mengingat keringat, air mata, doa, dan dukungan keluarganya.
Ia tidak boleh menyerah.
Ia terus berjuang.
Sampai akhirnya, tibalah panggilan pengumuman.
Ruangan menjadi hening.
Husna menghela nafas dan Ia berpikir, mencoba mengingat semua yang pernah dipelajarinya
Entah menang atau kalah, ia tahu satu hal: ia telah memberikan seluruh kemampuannya.
Beberapa menit pengumuman
“Juara ketiga…”
Nama peserta lain disebut.
“Juara kedua…”
Nama berikutnya terdengar.
Husna menunduk. Ia mencoba menerima apa pun hasilnya.
Kemudian pembawa acara kembali memegang mikrofon.
“Dan juara pertama…”
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Husna menggenggam tangannya sendiri.
“Diraih oleh…”
Nama itu terdengar. “Husna”
Untuk beberapa detik, Husna hanya diam. Seolah-olah telinganya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kemudian tepuk tangan memenuhi ruangan.
Husna berdiri, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah menuju panggung dengan kaki yang gemetar. Ketika piala itu akhirnya berada di tangannya, ia menatapnya lama. Bukan karena pialanya begitu indah. Tetapi karena ia tahu, di balik piala itu ada ribuan langkah kecil yang pernah ia lakukan.
Ada kegagalan, ada keraguan, ada rasa lelah. Ada doa, ada orang tua yang tak pernah berhenti mendukung. Dan ada seorang anak yang memilih untuk tidak menyerah.
Di antara riuh tepuk tangan, Husna menengadah. Langit di luar jendela tampak luas dan biru. Ia tersenyum.
Hari itu ia memahami sesuatu. Harapan tidak selalu langsung menjadi kenyataan. Kadang harapan harus diperjuangkan. Kadang ia harus ditemani kegagalan. Kadang ia harus melewati jalan panjang yang penuh keraguan. Namun selama seseorang mau terus melangkah, harapan tidak akan pernah benar-benar padam.
Husna mengangkat pialanya tinggi-tinggi. Bukan untuk menunjukkan bahwa ia lebih hebat daripada orang lain. Melainkan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa seorang anak yang berani bermimpi, mau berusaha, dan tidak mudah menyerah dapat membawa harapannya setinggi langit.
Hari itu, Husna bukan hanya memenangkan sebuah perlombaan.
Ia memenangkan pertarungan melawan rasa takut dalam dirinya sendiri. Ia memenangkan keyakinan bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami arti sebuah kalimat yang selama ini hanya ia dengar dari orang tuanya: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit, lalu iringi dengan doa dan perjuangan.” Sebab harapan yang dilangitkan dengan doa akan menjadi arah. Harapan yang diperjuangkan dengan usaha akan menjadi kekuatan. Dan harapan yang tidak pernah ditinggalkan akan menemukan jalannya menuju kenyataan.
Husna telah melangitkan harapannya. Dan hari itu, langit menjawabnya dengan sebuah kemenangan.