
Poto hanya ilustrasi, sepeda milik anak penulis.
Oleh: Choerul Anam
Selain berkebun, ada satu hobi yang mendadak populer saat pandemi lalu: bersepeda. Beberapa waktu yang lalu, seorang teman membuat status di Facebook. Ia mengabarkan bahwa orang-orang sudah antre panjang di depan salah satu toko sepeda ternama di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Padahal, toko tersebut belum juga buka.
Tidak hanya toko, bengkel sepeda pun mendadak ramai antrean. Setiap hari, terutama hari Minggu, jalanan selalu dipenuhi orang-orang yang sedang gowes. Berita di koran bahkan menyebutkan penjualan sepeda melonjak hingga 300%. Pandemi Covid-19 benar-benar membawa berkah melimpah bagi para pengusaha sepeda saat itu.
Melihat fenomena tersebut, ingatan saya mendadak terlempar ke masa kecil, tepatnya sekitar tahun 1999 di era Presiden B.J. Habibie. Saat itu, aspal pertama kali masuk ke desa kami. Rasanya senang bukan main. Maklum, itu adalah kali pertama seumur hidup kami melihat jalanan desa diaspal halus.
Semenjak jalanan mulus, teman-teman sebaya saya berbondong-bondong dibelikan sepeda oleh orang tua mereka. Sebagai anak kecil, bohong jika saya tidak kepengin melihat mereka asyik bersepeda. Namun, saya tahu diri. Saya memilih menahan keinginan itu karena tidak berani meminta kepada orang tua.
Setelah bertahun-tahun dipendam, keinginan rahasia saya akhirnya ketahuan oleh Bapak. Tak lama kemudian, Bapak mengajak saya pergi ke desa kelahirannya, tempat beliau tumbuh besar. Perjalanan ke sana tidak mudah. Kami harus melewati perkebunan, masuk ke dalam hutan lebat, menyusuri sungai, serta naik-turun bukit yang curam. Itulah satu-satunya jalur terdekat. Butuh waktu lebih dari satu jam berjalan kaki untuk sampai.
Tujuan kami ke sana adalah mengambil sepeda milik adik Bapak yang sudah tidak terpakai. Transportasi umum? Jangan tanya. Zaman itu belum ada angkutan, bahkan sampai sekarang pun sepertinya belum ada. Alhasil, Bapak harus menggendong sepeda itu di punggungnya sepanjang jalan pulang. Karena medan yang sangat berat, Bapak harus berkali-kali berhenti untuk beristirahat, mengatur napas, dan mengumpulkan kembali tenaganya.
Terima kasih yang tak terhingga untuk Bapak yang telah berkorban demi anak sulungmu ini. Mohon maaf karena hingga sedewasa ini, saya belum mampu membalas segala tetes keringat dan pengorbananmu. Setidaknya, lewat doa yang selalu saya panjatkan di setiap waktu, semoga dilimpahkan rahmat, keberkahan, serta kasih sayang oleh Allah SWT. Aamiin.